Permasalahan sosial etnis di pulau Jawa bagian barat dan timur
A. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari ratusan kelompok
etnis. Etnis-etnis tersebut tersebar dari Sabang sampai Merauke. Setiap etnis
yang ada di Indonesia, tentunya memiliki identitas tersendiri yang khas. Dalam
sejarah Nusantara, etnis-etnis di Indonesia mempertahankan identitas masing-
masing. Selain karena tempat-tempat yang terpisah secara geografis, juga karena
adanya pengaruh berbagai faktor sosial, budaya, politik, ekonomi, dan
sebagainya (Sarwono, 2006, hlm. 28).
Walaupun Indonesia terdiri dari pulau-pulau yang dibatasi oleh selat dan
laut, tetapi hal tesebut tidak membatasi penduduk Indonesia untuk mendatangi
pulau atau daerah lain. Hal tersebut dikenal dengan istilah merantau. Merantau
adalah suatu aktivitas dimana seseorang meninggalkan tempat tinggalnya untuk
pergi ke tempat lain yang jauh dari tempat asalnya. Biasanya mereka hidup dan
tinggal di daerah rantau dalam waktu yang lama (Dewi, 2008).
Etnis di pulau Jawa
Etnis yang memiliki penduduk terbanyak di Indonesia, yaitu Etnis Jawa,
merupakan salah satu etnis yang memiliki budaya merantau (Pandapotan, 2012,
hlm. 5). Efek dari budaya merantau pada etnis Jawa menyebabkan saat ini
banyak etnis Jawa yang tinggal di daerah lain selain daerah aslinya, termasuk di
daerah Jawa Barat. Mereka banyak ditemukan di Kabupaten Indramayu dan
Cirebon (Abdurrahman, Marajohan, Indraswari & Maylasari, 2013). Di Kota
Bandung, yang merupakan ibukota dari provinsi Jawa Barat pun, tentunya
banyak Etnis Jawa yang bermukim.
Masyarakat di Kota Bandung, Jawa Barat, rata-rata beretnis Sunda. Maka
dalam kehidupan sehari-hari, penduduk Etnis Sunda dan Etnis Jawa sering kali
melakukan interaksi sosial dan berbaur dalam wilayah pemukiman penduduk dan
aktivitas yang sama. Menurut Sears, Fredman & Peplau (1994),
Permasalahan
interaksi sosial adalah suatu proses dimana individu memperhatikan dan berespon terhadap individu lain sehingga menimbulkan sikap dan perilaku tertentu. Selain itu interaksi sosial dapat pula mempengaruhi prasangka sosial dalam diri seseorang.(Sears, Fredman & Peplau, 1994). Oleh sebab itu, besar kemungkinan prasangka etnis antara Etnis Jawa terhadap Etnis Sunda, maupun sebaliknya dapat timbul.
Selain adanya interaksi antara Etnis Jawa dan Etnis Sunda, kedua etnis
tersebut pun memiliki perbedaan kebudayaan dan hal tersebut dapat pula
menimbulkan prasangka. Menurut Sobur (2009), latar belakang kebudayaan yang
berbeda dari berbagai kelompok etnis dapat menimbulkan prasangka etnis
(Sobur, 2009). Prasangka etnis adalah sikap negatif yang ditujukan suatu
kelompok etnis tertentu kepada kelompok etnis lainnya dan difokuskan pada
ciri-ciri negatif sehingga menghambat hubungan antar etnis (Ali, Indrawati &
Masykur, 2010, hlm.19).
Menurut Sherif & Sherief (1969, dalam Sobur, 2009, hlm. 388), prasangka
adalah suatu istilah yang menunjuk pada sikap yang tidak menyenangkan
(unfavorable attitude) yang dimiliki oleh anggota-anggota suatu kelompok
terhadap kelompok lain berikut anggota-anggotanya yang didasarkan atas norma-
norma yang mengatur perlakuan terhadap orang-orang di luar kelompok.
Norma-norma yang ada pada tatanan kehidupan kedua etnis tersebut
diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam penyeleksian calon
pasangan hidup. Penyeleksian calon pasangan hidup merupakan salah satu dari
tugas perkembangan pada masa dewasa awal (Huvigurst, dalam Wrightsman,
1994, Turner & Helmes, daram Dariyo, 2003, dalam Silalahi & Meinarno, 2010,
hlm. 42). Memilih pasangan hidup, merupakan fase yang sulit untuk diputuskan.
Muncul beberapa pertimbangan yang harus dipikirkan agar dapat mendapatkan
pasangan hidup yang dapat membawa kebahagiaan dan ketenangan jiwa. Selain
itu, pengambilan keputusan dalam memilih pasangan hidup menyangkut dua
keluarga. Pada umumnya, setiap keluarga memiliki semacam kedudukan dalam
sistem lapisan masyarakat yang salah satunya dipengaruhi oleh kepada siapakah
orang tersebut menikah (Goodee, 2007, hlm. 16)
Selain itu, banyak keluarga yang menempatkan garis keturunan sebagai
sebuah tata nilai. Istilah bibit-bebet-bobot atau siksik lebe maka tindes yang
bermakna “telusuri asal usulnya” menggaris bawahi bahwa garis keturunan
memainkan peran penting dalam tata nilai keluarga (Surbakti, 2008). Asal usul
calon pasangan perlu ditelusuri, seperti dari agama apa, keturunan siapa,
bagaimana keadaan ekonominya, bahkan berasal dari etnis mana calon pasangan.
Kehidupan etnis Sunda dan etnis Jawa yang hidup berdampingan di Kota
Bandung, memungkinan munculnya rasa saling tertarik antara wanita Sunda dan
pria Jawa atau sebaliknya. Menurut Ineichen (1979, dalam Matsumoto, 2008),
orang yang tinggal di wilayah yang berdekatan, lebih besar kemungkinannya
untuk saling menikah. Namun, hubungan ketertarikan antaretnis tersebut dapat
berjalan kurang baik karena ada beberapa penduduk etnis Jawa yang meyakini
adanya norma sosial yang melarang atau menyarankan kedua etnis tersebut tidak
melangsungkan pernikahan.
Berdasarkan wawancara pendahuluan yang penulis lakukan dengan
beberapa teman beretnis Jawa yang tinggal di Bandung, mereka disarankan oleh
orang tua dan keluarganya untuk memilih pasangan hidup dari etnis yang sama.
Alasannnya, yaitu untuk memperkecil derajat perbedaan antara etnis Sunda dan
etnis Jawa dalam upacara pernikahan. Alasan lainnya menyebutkan bahwa orang
dari etnis Jawa lebih suka bekerja keras daripada orang dari etnis Sunda,
sehingga orang dari etnis Jawa-lah yang didambakan menjadi pendamping
hidupnya. Ada pula yang menghindari pernikahan anatara Etnis Jawa dan Sunda
karena saran dari orang tua. Usaha untuk mempertahankan kebudayaan pun
menjadi salah satu alasan mengapa orang dari etnis Jawa disarankan untuk
memilih pasangan hidup dari etnis yang sama.
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Warnaen (2002) mengenai
stereotip etnis, dapat diketahui bahwa sifat khas yang tampil pada stereotip
tentang orang Sunda menurut etnis Jawa yang tinggal di Jakarta, yaitu kolot,
sopan, percaya takhayul, senang menerima tamu, baik hati, suka kesenangan,
tradisional, matrealistis, rapi, ramah, rajin, periang (Warnaen, 2002, hlm. 208).
Sedangkan sifat khas yang tampil pada stereotip tentang orang Jawa menurut
etnis Sunda yang tinggal di Jakarta, yaitu kolot, sopan, bisa dipercaya, percaya
takhayul, jujur, baik hati, ikatan keluarga kuat, tradisional, jorok dan rajin
(@soucarlosmagno)
B.Penyelesaian masalah dan solusi
Pendidikan multikultural merupakan solusi penanaman cara hidup
menghormati, tulus, dan toleran terhadap keragaman budaya yang hidup
ditengah-tengah masyarakat plural. Dengan pendidikan multikultural
diharapkan adanya kekenyalan dan kelenturan mental bangsa menghadapi
benturan konflik sosial. Di samping itu, yang juga penting adalah bahwa
dengan pendidikan multikultural dimaksudkan agar semua peserta didik yang
dengan segala perbedaannya itu mendapatkan pendidikan yang setara (Setya
Raharja, 2010: 28).
Membangun masyarakat yang memahami serta menghargai perbedaan
yang ada, tidak dapat dilakukan secara instan. Perlu adanya tindakan yang
bertahap dan berkelanjutan dalam menanamkan nilai-nilai multikultural pada
seseorang atau individu. Dalam hal ini pendidikan multikultural pada nyatanya
merupakan sesuatu yang masih “asing” di kalangan masyarakat luas. Bahkan
masih banyak masyarakat yang belum mengetahui dan mengerti mengenai
pendidikan multikultural itu sendiri. Pada dasarnya pendidikan multikultural
tidak hanya dapat dilakukan di lingkungan sekolah secara formal, namun
dapat dilakukan dimanapun
Pendidikan multikultural yang diterapkan sejak dini, akan jauh
tertanam kuat di dalam diri individu. Penanaman nilai-nilai multikultural pada
anak, mengenalkan keberagaman yang ada disekitar mereka sedini mungkin.
Mengenai perbedaan jenis kelamin, daerah asal tempat tinggal, bahasa, warna
kulit, bentuk rambut, hingga pada perbedaan agama yang ada di lingkungan
sekitar mereka. Keberagaman yang ada dalam hal ini dapat dilihat pada
lingkungan sekolah. Lingkungan sekolah yang terdiri dari bermacam-macam
latar belakang sosial dan budaya yang berbeda membuat mereka belajar akan
nilai-nilai multikultural dari hal paling sederhana sekalipun.
Komentar
Posting Komentar